Keberagaman menjadi ruang belajar bagi anak-anak Paroki Kerahiman Ilahi, Tiban, Batam, untuk mengenal, menghargai, dan membangun persaudaraan dengan sesama. Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Mewujudkan Kebersamaan dalam Keberagaman” yang dilaksanakan Selasa, 25 Agustus 2026.
Sebanyak 61 anak dan 20 orang pendamping ambil bagian dalam kegiatan yang diselenggarakan Paroki Kerahiman Ilahi melalui Seksi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Bersama bersama Seksi Bina Iman Anak dan Remaja (BIA/BIR).
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengunjungi dua tempat ibadah, yakni Pura Agung Amertha Buana dan Vihara Manggala Batam. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk melihat secara langsung kehidupan umat beragama lain sekaligus belajar bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam keberagaman agama, budaya, dan tradisi.
Kegiatan tidak sekadar diarahkan sebagai kunjungan, tetapi menjadi proses pembelajaran iman dan kehidupan bersama. Anak-anak diajak memahami bahwa perbedaan agama dan kepercayaan tidak seharusnya menjadi tembok yang memisahkan manusia.
Justru melalui perjumpaan, seseorang dapat belajar mengenal orang lain secara lebih dekat, menghilangkan prasangka, serta menumbuhkan sikap saling menghormati.
Bagi Paroki Kerahiman Ilahi, pendidikan iman anak memiliki dimensi yang luas. Anak-anak tidak hanya dibentuk untuk semakin mengenal dan mencintai iman Katolik, tetapi juga dipersiapkan untuk hadir sebagai pribadi yang mampu membawa damai dan membangun persaudaraan di tengah masyarakat.
Diakon Klaudius Heronimus Luruk, CS, yang turut mendampingi kegiatan, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia mengapresiasi inisiatif Seksi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengalami secara langsung makna hidup dalam keberagaman.

“Ini merupakan sebuah inisiatif yang luar biasa. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka melihat bahwa di sekitar mereka ada saudara-saudari yang memiliki agama dan tradisi yang berbeda, tetapi semuanya dapat hidup berdampingan sebagai satu keluarga besar,” ujar Diakon Klaudius.
Menurutnya, pengalaman semacam itu penting bagi perkembangan anak karena nilai toleransi dan persaudaraan akan lebih mudah dipahami ketika dialami melalui perjumpaan langsung.
“Dengan kegiatan ini, kita ingin menanamkan kesadaran bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk membangun jarak. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan memperkaya pengalaman satu sama lain,” katanya.
Diakon Klaudius juga melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya Gereja menghadirkan semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
“Anak-anak perlu dibiasakan sejak dini untuk menghargai siapa pun. Mereka adalah generasi yang nantinya akan hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang majemuk. Karena itu, semangat persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama perlu ditanamkan sejak sekarang,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Seksi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Paroki Kerahiman Ilahi, Maximus Kota, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari kesadaran bahwa pendidikan tentang keberagaman perlu dimulai sejak usia dini.
“Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengenal keberagaman secara nyata. Kita tidak ingin mereka hanya mengetahui bahwa ada agama lain, tetapi juga memahami bahwa umat dari agama yang berbeda adalah saudara yang harus dihormati,” ungkap Maximus.
Menurutnya, perjumpaan lintas agama menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun jembatan persaudaraan.
“Ketika kita berjumpa, kita bisa saling mengenal. Ketika saling mengenal, kita bisa memahami. Dari pemahaman itu kemudian tumbuh rasa hormat dan persaudaraan,” jelasnya.
Maximus menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan untuk mencampuradukkan ajaran agama, melainkan memberikan pendidikan mengenai bagaimana seorang Katolik hidup dan berelasi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
“Kita tetap teguh dalam iman masing-masing. Tetapi keteguhan iman tidak berarti kita harus menutup diri. Justru iman mengajarkan kita untuk mengasihi sesama, menghormati martabat setiap manusia, dan membangun kehidupan bersama yang damai,” katanya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh anak-anak selama kunjungan ke Pura Agung Amertha Buana dan Vihara Manggala Batam dapat terus mereka bawa dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami sederhana, anak-anak pulang dengan pengalaman baru dan hati yang semakin terbuka. Mereka belajar bahwa memiliki teman yang berbeda agama bukan sesuatu yang aneh. Kita bisa berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat bersahabat, bekerja sama, dan saling membantu,” ujar Maximus.






Be First to Comment