Pangkalpinang, Bangka — Sebuah gereja unik dengan arsitektur menyerupai Bahtera Nuh tengah menjadi perhatian dan viral di kalangan umat Katolik. Gereja yang berlokasi di Baturusa, yakni Stasi St. Yohanes Pemandi dari Paroki Katedral Pangkalpinang ini dijadwalkan akan diresmikan pada Minggu, 3 Mei 2026 oleh Mgr Adrianus Sunarko OFM.
Pembangunan gereja yang dikenal sebagai “Gereja Bahtera” ini memakan waktu kurang lebih dua tahun dan menghabiskan dana 7,7 Miliar. Desainnya yang menyerupai kapal besar menjadi simbol iman umat sebagai peziarah, sekaligus refleksi sejarah para pendatang yang datang ke Bangka dengan menumpang kapal demi kehidupan baru.
Menariknya, Ketua Panitia Pembangunan gereja ini adalah Fransiskus Asisi Bastri, seorang putra asal Nusa Tunggal, Belitang, OKU Timur, Sumatera Selatan. Ia merupakan anak dari mendiang Mbah Sudar, yang merantau ke Bangka sejak tahun 1970-an.
Dalam penuturannya, Bastri mengisahkan perjalanan panjang umat Katolik di wilayah tersebut. Awal mula komunitas terbentuk sejak tahun 1961, ketika seorang perantau asal Solo bernama Sarman datang ke Bangka untuk bekerja di PT Timah. Singkatnya, ia kemudian bertemu Pastor Joen Boen dan memutuskan menjadi Katolik dengan nama baptis Alexander.
Memasuki tahun 1970-an, gelombang perantau dari Nusa Tunggal, Belitang mulai berdatangan dan membentuk komunitas umat yang semakin berkembang. Namun, perjuangan tidaklah mudah. Selama bertahun-tahun, umat belum mendapatkan izin untuk mendirikan tempat ibadah karena jumlah yang masih terbatas.

“Selama delapan tahun berturut-turut, umat berdoa di Gua Maria, memohon bantuan Bunda Maria agar bisa memiliki tempat ibadah,” kenang Bastri.
Doa dan ketekunan itu akhirnya berbuah. Pada tahun 1989, izin resmi mendirikan tempat ibadah diperoleh. Sebuah rumah sederhana di tepi jalan raya kemudian diubah menjadi kapel. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1991, stasi tersebut diresmikan oleh Mgr Hilarus Moa Nurak. Kapel tersebut kala itu hanya mampu menampung sekitar 100 umat.
Dari awal yang sederhana dengan sekitar 15 kepala keluarga, termasuk beberapa keluarga asal Nusa Tunggal dan para pendatang dari daerah lain, komunitas umat Katolik di Baturusa berkembang pesat hingga saat ini.
Seiring pertumbuhan umat, muncul gagasan untuk membangun gereja yang lebih representatif. Pada tahun 2020, panitia pembangunan dibentuk dan mulai menghimpun dana. Inspirasi desain gereja berbentuk bahtera lahir dari pengalaman historis umat sebagai para perantau yang datang ke Bangka melalui perjalanan laut.
Pembangunan fisik dimulai pada 22 Februari 2024 oleh pihak pengembang Asia Konstruksi, dengan pemasangan tiang pancang sebagai fondasi awal. Proses pembangunan berlangsung tanpa jeda hingga akhirnya rampung pada Februari 2026.
Sebagai putra Nusa Tunggal, Bastri juga menyampaikan pesan penuh makna bagi kampung halamannya.
“Kami dibekali oleh orang tua-orang tua dengan mental baja, pengabdian kepada Tuhan Yesus, dan devosi kepada Bunda Maria. Dimanapun kami merantau, semangat iman itu tetap bertumbuh. Oleh karena itu kami juga bersyukur mempunyai para orang tua yang memberikan teladan iman yang baik…” kenang Bastri.

Beberapa hari lalu, tepatnya 29 April 2026 Stasi Nusa Tunggal juga sukses menyelenggarakan tahbisan imam. Rupanya keluarga diaspora Nusa Tunggal juga turut mengikuti acara walupaun dari live streaming. Bastri pun juga mengungkapkan kesannya yang menyentuh, “Saya bangga dan terharu melihat Stasi Nusa Tunggal mampu menyelenggarakan pentahbisan imam kemarin dengan luar biasa, saya sungguh-sungguh bangga…” ungkapnya.
Kisah Gereja Bahtera ini tidak hanya menjadi simbol pertumbuhan iman umat Katolik di Bangka, tetapi juga menjadi teladan nyata diaspora Nusa Tunggal dalam membangun Gereja di berbagai daerah. Dari kampung kecil di Belitang, semangat iman itu terus berlayar, membawa harapan dan kesaksian hingga ke berbagai penjuru negeri.*










Be First to Comment