BANDUNG, 2 Mei 2026 – Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Jawa Barat menyoroti berbagai persoalan pendidikan yang masih menjadi tantangan serius di Provinsi Jawa Barat. Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan, tingginya angka putus sekolah, hingga persoalan kualitas pendidikan yang belum merata di berbagai daerah.
Berdasarkan data pendidikan nasional, Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka putus sekolah tertinggi di Indonesia, khususnya pada jenjang sekolah dasar. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun ajaran 2024/2025 menunjukkan lebih dari 114 ribu anak usia SD di Jawa Barat tidak lagi bersekolah. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan, hingga persoalan sosial di lingkungan keluarga.
Selain persoalan putus sekolah, tantangan pendidikan di Jawa Barat juga terlihat dari ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mengenai Statistik Pendidikan menunjukkan masih adanya kesenjangan pada akses sarana pendidikan, kualitas tenaga pendidik, serta fasilitas penunjang pendidikan di sejumlah wilayah.
Ketua Pemuda Katolik Komda Jawa Barat, Alfian Syukur menegaskan bahwa Hari Pendidikan Nasional tidak boleh hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi bersama untuk memastikan pendidikan benar-benar dapat diakses secara adil dan merata oleh seluruh anak bangsa.
“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan manusia. Namun hari ini kita masih melihat banyak anak di Jawa Barat yang kehilangan akses pendidikan karena faktor ekonomi dan ketimpangan sosial. Negara dan seluruh pemangku kepentingan harus hadir memastikan tidak ada anak yang tertinggal,” tegas Alfian Syukur selaku Ketua Pemuda Katolik Komda Jawa Barat.
Pemuda Katolik Komda Jawa Barat juga menilai bahwa persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif semata. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, komunitas masyarakat, serta sektor swasta untuk membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Dalam peringatan Hardiknas 2026 ini, Pemuda Katolik Komda Jawa Barat mendorong beberapa langkah konkret, antara lain:
1. Penguatan program pencegahan anak putus sekolah, terutama bagi keluarga rentan secara ekonomi.
2. Pemerataan kualitas pendidikan dan fasilitas sekolah di wilayah perkotaan maupun pelosok daerah Jawa Barat.
3. Peningkatan kesejahteraan dan kapasitas tenaga pendidik agar kualitas pembelajaran semakin optimal.
4. Penguatan pendidikan karakter, toleransi, dan kebhinekaan di lingkungan sekolah.
5. Optimalisasi pendidikan berbasis keterampilan dan kewirausahaan untuk menjawab tantangan dunia kerja masa depan.
Ketua Pemuda Katolik Komda Jawa Barat, Alfian Syukur menegaskan bahwa masa depan Jawa Barat sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan generasi mudanya hari ini. Oleh sebab itu, seluruh pihak harus memiliki komitmen bersama untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkeadilan sosial bagi seluruh anak di Jawa Barat.
“Hardiknas harus menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar hak administratif, tetapi hak dasar setiap anak bangsa untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Jangan sampai kemiskinan dan ketimpangan sosial memutus harapan generasi muda Jawa Barat,” tutup Alfian Syukur dalam pernyataannya.






Be First to Comment