Persoalan lingkungan hidup semakin menjadi tantangan bersama umat manusia. Perubahan iklim, pencemaran, kerusakan ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga persoalan sosial seperti kemiskinan dan ketidakadilan menunjukkan bahwa bumi sebagai rumah bersama membutuhkan perhatian dan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Atas dasar keprihatinan tersebut, Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAAK) Kevikepan Kepri, Keuskupan Pangkalpinang, akan menyelenggarakan Simposium Ekologi Integral Lintas Iman dengan tema “Kita dan Tanggung Jawab Merawat Rumah Bersama”, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Ballroom SMA Yos Sudarso, Batam Center.
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang perjumpaan bagi kaum muda dari berbagai agama dan kepercayaan untuk saling mengenal, berdialog, belajar dari kekayaan tradisi masing-masing, serta membangun kerja sama nyata dalam merawat lingkungan sebagai rumah bersama.
Peserta simposium berasal dari berbagai komunitas agama dan kepercayaan, yakni Islam, Katolik, Protestan, Buddha, Hindu, Konghucu, serta Penghayat Kepercayaan, dengan target sekitar 400 peserta.
Simposium ini mengangkat pendekatan Ekologi Integral, yang melihat persoalan ekologis tidak hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan relasi manusia dengan Tuhan, sesama, alam semesta, serta martabat kehidupan.
Melalui perspektif tersebut, peserta akan diajak melihat bahwa krisis lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan persoalan kemanusiaan, kemiskinan, ketidakadilan, gaya hidup, serta cara manusia membangun relasi dengan sesama dan alam.
Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAAK) Kevikepan Kepri, Keuskupan Pangkalpinang, RP Ansensius Guntur, mengatakan bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang melampaui batas-batas agama dan identitas kelompok.
“Bumi adalah rumah bersama. Karena itu, merawat bumi juga merupakan tanggung jawab bersama. Perbedaan agama dan kepercayaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja sama, tetapi justru menjadi kekayaan yang dapat memperkuat kepedulian kita terhadap lingkungan dan kehidupan.”
Menurutnya, keterlibatan kaum muda menjadi sangat penting karena mereka merupakan generasi yang akan menerima sekaligus menentukan masa depan bumi.
“Kami ingin menyediakan ruang bagi kaum muda lintas iman untuk tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi mengalami langsung persaudaraan dalam keberagaman melalui kerja sama yang konkret. Ekologi dapat menjadi ruang bersama untuk membangun persaudaraan, karena kita semua hidup di rumah yang sama dan menghadapi tantangan lingkungan yang sama.”
Ia berharap simposium tersebut tidak berhenti pada diskusi dan seremoni, tetapi melahirkan komitmen serta aksi nyata yang dapat dilakukan bersama oleh komunitas lintas agama.
Simposium akan menghadirkan Prof. Dr. Mgr. Adrianus Sunarko, OFM sebagai Keynote Speaker. Selain itu, tokoh-tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan akan hadir sebagai panelis untuk menyampaikan perspektif masing-masing mengenai tanggung jawab merawat rumah bersama.*






Be First to Comment