(Refleksi Atas Sinodalitas Gereja
Dalam Terang Kisah Para Rasul 15:22-31 dan Yohanes 15:12-17)
Hari ini, entah mengapa, saat merenungkan kedua bacaan ini, teristimewa ketika membaca surat Para Rasul yang dibawa Paulus dan Barnabas, Yudas dan Silas untuk Umat Katolik di Antokia, Siria dan Kilikia, saya dibuat terhenyak oleh sapaan yang berbunyi: “Salam dari rasul-rasul, penatua-penatua dan saudara-saudaramu.” Sebuah sapaan yang memperlihatkan bahwa surat yang ditulis itu merupakan surat seluruh Gereja Yerusalem, tentang keputusan yang diambil bersama di akhir sidang sinodal oleh para rasul, para penatua dan seluruh umat.
Henyakan itu semakin menyentuh hati saya, ketika membaca bahwa keputusan yang diambil dengan sebulat hati itu bukan dari hasil diskusi manusiawi melainkan bersama Roh Kudus:” Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…..”. Kata-kata ini menginsafkan saya bahwa keputusan yang diambil itu bukan melulu karena mendengarkan bisikan diskusi suara manusia, melainkan mengalir dari apa yang didengar dari Allah dalam proses yang disebut discernment. Saya akhirnya baru memahami mengapa keputusan itu begitu mengikat. Rupa-rupanya keputusan itu sungguh keputusan Gerejawi, karena lahir dari Allah yang merasuki semua anggota Tubuh Mistik, sehingga keputusan itu bukan hanya menakjubkan tetapi juga memiliki daya ikat yang kuat, yang harus diwujudkan oleh Gereja dalam ziarahnya.
Sinode II Keuskupan Pangkalpinang
Cerita Sinode Yerusalem dengan keputusannya yang mengikat ini akhirnya membawa saya ke kisah sinodal Keuskupan Pangkalpinang 15 tahun silam. Orang-orang yang hadir kala itu adalah Uskup, seluruh imam dan perwakilan awam paroki-paroki; bukan sembarang awam, melainkan awam yang telah mengikuti proses sinode mulai dari KBG-Paroki dan dekenat. Maklum, tidak seperti sinode pertama yang hanya berdasarkan angket; sinode kedua ini sudah menggunakan proses discernment mulai di KBG-KBG. Kalau saya tidak salah, atas alasan ini, saya mengusir pak Atanasius dan pak Ansel dari Paroki Bengkong kala itu, yang mengalami kebingungan atas modul-modul yang dikirim dari Keuskupan untuk menolong proses discernment sinode.
Proses discermet di KBG-KBG, di mana refleksi umat atas kehidupannya dicahayai oleh Sabda Allah agar dituntun oleh Roh Kudus; kemudian dilanjut ke tingkat Paroki. Kami di Paroki MBPA kala itu berkumpul di pusat pastoral St. Dominikus, duduk bersama dan saling mendengar hasil refleksi dan dan berdiscerment bersama. Dari proses discernment yang datang dari KBG-KBG itu, kami kemudian mengusulkan rumusan Visi-Misi dan Spiritualitas. Hasil sinode Paroki itu kemudian dibawa ke tingkat Dekenat, yang kala itu dilakukan di Bible Center Suka Jadi. Dalam sidang itu selain refleksi dari paroki-paroki, ada juga beberapa narasumber yang diminta. Saya masih ingat Prof. Dr Suryo Respationo, SH, MH, ibu Nada Soraya, Pak Binsar Tambunan, dan ibu Emmy Smith yang membuka mata kami tentang realitas eksternal, untuk memperlengkapi hasil discernment internal paroki-paroki, sebab bagaimana pun Gereja Katolik hadir di tengah dunia dengan segala pergulatannya. Aneka insight yang diberikan oleh para nara sumber eksternal, menolong kami melihat dunia dan melihat diri kami yang menyebar di masing-masing paroki, serentak mendiskusikan dan merumuskan bersama sebagai sebuah komunitas dekenat: segala impian, harapan dan apa yang seharusnya dijiwai, yang terungkap dalam usulan rumusan visi-misi dan spiritualitas Gereja Keuskupan Pangkalpinang. Selain proses discernment di KBG-KBG sampai tingkat dekenat serta input nara sumber, Romo Aloysius Angus, dalam masa pra sinode, juga membuat penelitian yang disebarkan secara acak ke seluruh umat untuk memperkaya refleksi bagaimana Gereja membangun cara hidup dan cara beriman di tengah realitas dunia, yang hasilnya bisa kita baca dalam buku MGP, halaman 23-58.
Hasil-hasil discernment yang berproses dari bawah bersama dengan semua input dan hasil penelitian itu kemudian direfleksikan lagi dalam pertemuan sinodal di tingkat Diosesan. Saya ingat malam hari, di hari pertama Sinode Keuskupan, di bawah bimbingan Ibu Estella Padila dan Mgr. Jose Marie, kedua teolog dari Philipina ini membawa peserta untuk memilih segala harapan dan ditempel di kain putih yang ditempel di dinding. Harapan – harapan itu kemudian diendapkan peserta dalam proses discernment setiap pagi, yang dibagi dalam puluhan kelompok kecil, lewat sharing injil yang bacaannya diambil secara tematis. Proses itu kemudian dilanjutkan dalam diskusi dan input bahkan debat dalam beberapa hari Sinode, yang penuh dinamika itu.
Saya ingat Mas Joni, Romo Meo yang hanya pakai baju singlet, Romo Alo Angus dan team secretariat lainnya yang bekerja sampai dini hari. Saya ingat Romo Benny yang dihantam rekan-rekan imam. Saya juga ingat Pak Herman Simbolon yang menjadi pembicara tentang hasil-hasil sinode dan usulan visi-misi dan spiritualitas dari Dekenat Utara; sementara dari Dekenat Selatan dilaporkan oleh RD. Frans Mukin dan Shito Khadari. Perjumpaan yang penuh dinamika itu punya kenangan tersendiri. Saya ingat diri saya yang berdiri di podium di hari ketiga Sinode, pagi hari, untuk mengajak peserta kembali melihat langkah dan proses dengan segala gerakan yang menggembirakan dan menyakitkan, seraya mengingatkan kepada para peserta apa yang dikatakan alm. Mgr. Hila bahwa ombak ketika hampir mendekati darat selalu berbuih, dengan maksud agar segala emosi dan pemikiran manusiawi diendapkan agar Roh Kudus terus berkarya.
Ternyata setelah beberapa hari berproses dalam pergumulan untuk mermuskan visi-misi dan spiritualitas serta langkah-langkah praktis sebagaimana yang direkomendasikan dalam buku MGP, masih lagi ada tahap finalisasi. Bapa Uskup, dengan otoritasnya, menunjuk beberapa imam untuk membantunya merumuskan semua hasil dengan berkaca pada iman dan ajaran Gereja, serta refleksi atas visi-misi dan spiritualitas untuk menjadi pegangan. Semua refleksi itu ia baca dengan teliti, ia kristisi; bahkan ada yang ia tolak. Tidak hanya sampi di situ. Setelah melwati tahap itu, Bapa Uskup mengundang team perumus untuk rapat bersama di Klasik. Dalam rapat itu, ia mendengar dan terlibat dalam seluruh kerangka tulisan yang diusulkan, sekaligus meminta team untuk menentukan seorang perumus final agar hasil sinode dijadikan pedoman pastoral. P. Aurel Pati SVD akhirnya dipilih untuk merumuskan semuanya itu, dan pada sebuah Malam Minggu, pedoman itu dimaklumkan secara resmi di Gereja Malaikat Gabriel Tembesi, walau buku masih dalam proses design di percetakan.
Mengenang semua proses ini, saya merasa seperti mengikuti sidang di Yerusalem. Dalam hati, saya diteguhkan bahwa buku MGP sebagaimana yang saya pegang saat ini adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan seluruh umat Allah; sebuah proses discernment yang memakan waktu hampir 2 tahun oleh semua Umat Keuskupan Pangkalpinang. Sebuah keputusan Sinodal yang mengikat Uskup, imam dan semua umat Allah.
Setelah Sinode II
Hadirnya buku pedoman, bukan berarti telah selesai. Sebagai Vikep saat itu, tugas utama saya adalah bagaimana menganimasi agar buku hasil sinode mulai menjadi pedoman pastoral di paroki-paroki. Saya teringat beberapa kali ke Paroki Bengkong untuk menganimasi bagaimana mengimplementasikan pedoman itu. Saya juga teringat bagaimana Romo Beny menganimasi itu di Bangka Belitung, juga di MBPA yang dihadiri kurang lebih 600 fasilitator. Saya teringat beberapa team fasilitatoir MBPA diminta Romo Beny untuk bersamanya menganimasi buku pedoman ke beberapa tempat. Saya juga teringat bagaimana setiap dua bulan, dalam pertemuan pastoral imam, saya terus focus memperbincangkan buku MGP, agar kami para imam sebagai penjamin utama, tidak lagi berpastoral tanpa visi, tanpa misi dan tanpa spiritualitas. Dalam proses animasi itu, baru saya sadar bahwa misi membangun KBG yang memiliki 9 karakter, sebagaimana tertuang dalam buku MGP, adalah berdasarkan pilihan seluruh peserta sinode diosesan, di hari pertama, saat dipandu oleh Estella dan oleh Mgr. Jose Marie.
Sayang sekali, setelah buku itu mengumat bertahun-tahun, mata kita seakan baru terbuka seakan Gereja Sinodal itu adalah sesuatu yang baru dibangu tahun 2023, saat diumumkan oleh Paus Fransiskus. Ke mana-mana orang berteriak Gereja Sinodal, sambil membuang buku pedoman hasil sinodal yang juga merupakan keputusan Roh Kudus dan Keputusan Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang.
Refleksi Ecclesiologis
Sidang Sinodal Yerusalem hari ini, yang menjadi teropong untuk melihat Gereja Sinodal Keuskupan Pangkalpinang, membantu saya menyadari bahwa ciri Gereja sinodal: bukan demokrasi murni, tetapi juga bukan kekuasaan elite an sich, melainkan sebuah perjalanan bersama dalam bimbingan Roh Kudus, yang menyapa seluruh anggota Tubuh: Uskup, imam dan Umat Allah. Sinodalitas Gereja juga mengisyaratkan bahwa Roh Kudus bekerja bukan hanya melalui pemimpin, tetapi juga melalui pengalaman umat, pergulatan komunitas, dan dialog yang rendah hati.
Buku MGP memancarkan secara terang benderang Gereja Sinodal itu; sebuah Gereja Hierarkis, namun bukan pertama-tama soal struktur, melainkan melalui struktur yang hierarkis itu, cara hidup meng-Gereja yang dibangun adalah: berjalan bersama, mendengarkan bersama, berdoa bersama, mencari kehendak Tuhan secara bersama dan dituntun untuk mengambil keputusan bersama yang mengikat. Inilah pengalaman indah yang dialami selama proses sionde II Keuskupan Pangkalpinang.
Ciri sinodal ini tercipta karena peserta yang hadir bukan musuh melainkan sahabat Yesus yang berkumpul untuk mencari kehendak Tuhan demi melanjutkan misi-Nya di tengah dunia Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Apakah sahabat-sahabat ini tekun mengimplementasikan hasil sonodalitas Gereja, atau sekedar menggunakan mikrofon untuk menggaungkan Gereja Sinodal? Saya akhirnya paham, mengapa pertobatan menjadi kata kunci dalam membangun spiritualitas hamba dan murid. Rupanya karena kebiasaan omon-omon tanpa usaha mewujudkannya adalah dosa laten yang terus menghantui siapa saja. Mungkin karena alasan inilah, sejak sinode pertama dan sinode II, RD. Marcel Gabriel selalu menggaungkan kalimat pamungkas:”nato: nato: no action talk only”.
(Opini oleh RD. Lucius Poya Hobamatan, imam diosesan Pangkalpinang)





Be First to Comment