Press "Enter" to skip to content

HIDUP BERKOMUNITAS: MENDENGARKAN DENGAN HATI, BERTINDAK DENGAN TULUS

Share this:

Oleh Br. Ferdianus Jelahu, MTB

“Pengalaman bersama” saat sekarang ini sangat dibutuhkan. Di tengah perkembangan teknologi, bisa membawa dampak bagi kehidupan bersama di komunitas.

Bisa juga berpengaruh positif, atau bahkan berpengaruh negatif. Kenyataan ini tidak bisa dihindari. Itulah perkembangan zaman.

Hidup bersama dalam komunitas menjadi hangat bilamana anggota komunitas membangun kebersamaan atas dasar kasih.

Dari mana memulainya? Kita dapat berusaha melalui tiga dasar yang ditawarkan dalam tulisan ini, yakni membangun komunitas saling mendengarkan, saling membantu dan saling berbagi.

Komunitas yang saling mendengarkan
Ada gejala yang sangat fenomenal yang kita hadapi saat ini, yakni sulitnya saling mendengarkan. Semua ingin didengarkan. Penulis tidak tahu dari mana muncul faktor ini.

Yang jelas, ketika itu terjadi maka kehangatan hidup berkomunitas menjadi terganggu karena semua ingin mempertahankan diri.

Hal ini terjadi bukan saja dalam hidup berkomunitas, dalam organisasi, para politisi juga terjadi demikian.

Kalau kita menonton secara langsung di media televisi, youtube tentang perdebatan-perdebatan, betapa sulitnya untuk saling mendengarkan.

Di sana terjadi situasi yang memanas, semua saling mempertahankan kebenaran diri. itulah realitas yang terjadi saat ini.

Berangkat dari dua kenyataan itu, kita bisa belajar, bagaimana seharusnya kita bersikap saling mendengarkan.

Dalam komunitas, keluarga sekalipun kita perlu saling mendengarkan satu sama lain. Mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan masing-masing anggota komunitas atau pun anggota keluarga.

Maka sikap yang pertama dibangun adalah memberikan diri secara totalitas, mau mendengarkan dengan sepenuh hati, membuka diri bagi pengalaman pergulatan orang lain.

Dari sikap memberi diri ini kita bisa belajar untuk mendengarkan dengan sepenuh hati. Bisa saling memahami dan mengerti situasi yang dihadapi masing-masing anggota, bukan dengan memaklumi saja.

Sikap memaklumi tidak dapat menghasilkan komunitas yang menghangatkan.

Kita bisa belajar dari hidup para murid jemaat perdana. Mereka membangun hidup dalam satu komunitas yang menghangatkan, mendengarkan dan mau berbagai (Kis 2:32-37).

Berangkat dari sikap memahami, mendengarkan dan sampai pada tindakan konkrit/nyata.

Saling membantu
Komunitas itu indah kalau anggotanya saling membantu. Tanda hidup komunitas yang saling membangun adalah mendengarkan, dan saling membantu dalam setiap kesulitan yang dialami masing-masing anggota komunitas maupun keluarga.

Saling membantu dapat mendorong setiap anggota komunitas semakin nyaman, aman dan penuh kasih persaudaraan.

Komunitas dalam kebersamaannya diharapkan saling membantu setiap kesulitan masing-masing anggota.

Rm. E. Martasudjito, Pr (2001:12) mengatakan bahwa komunitas bukanlah sekelompok orang atau kumpulan pribadi-pribadi yang memiliki perbedaan latar belakang, kelebihan, dan kekurangan.

Komunitas itu lebih dari pada sekedar kumpulan jumlah pribadi yang menjadi anggotanya, secara sosiolog komunitas pertama-tama merupakan suatu jaringan-jaringan hubungan, suatu sistem sosial.

Nah, kalau demikian bagaimana kita menghayati secara konkrit hidup komunitas dengan sikap saling membantu? Hemat penulis, tidak lain adalah kita perlu mengenal, memberikan diri, sehingga muncul kesadaran untuk berbagi.

Sikap saling berbagi
Komunitas berbagi kerapkali dipahami berbagi pengalaman. Komunitas berbagi melampaui pengalaman berbagi pengalaman, tetapi berbagi dari apa yang kita miliki untuk orang lain.

Tema APP pada masa Prapaskah tahun 2019 menggerakkan hati kita bahwa berbagi itu menjadi berkat bagi orang lain.

Salah seorang umat berbagi tentang pengalaman pergulatannya dalam sebuah pertemuan APP.

Ia mengatakan bahwa berbagi itu mendatang perasaan lega, berbagi itu mendatangkan kebahagiaan. Berbagi tidak menunggu memiliki harta berlimpah, tetapi dari kekurangan yang kita miliki kita menjadi berkat bagi orang lain.

Santo Paulus juga mengatakan “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis 20:35). Pengalaman ini menjadi pelajaran yang sangat baik untuk kita ikuti dan bangun secara terus-menerus sebagai konsekuensi panggilan mengikuti Kristus.

Sikap saling mendengarkan, saling membantu, dan saling berbagi merupakan model hidup komunitas orang beriman.

Dari komunitas itulah kita bisa belajar untuk peduli dan mau berbagi kepada sesama kita.

Sikap berbagi adalah sikap yang sangat membahagia bila dihayati sebagai karunia untuk menyelamatkan orang lain, terutama mereka yang sulit dalam hidupnya. Semoga hati kita tergerak untuk membantu sesama.

Br. Ferdianus Jelahu, MTB adalah seorang Bruder dari Kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB) Ordo ke III Fransiskan Regular, Bantul, Yogyakarta.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *