Press "Enter" to skip to content

GUSTAF SEBUT YANG BERTAHAN ITULAH KADER

Share this:

KATOLIKTIMES.COM – Agustinus Tamo Mbapa, S.Sos.,M.Si adalah putra kelahiran Kodi, Sumba Barat Daya , NTT. Pria yang lahir 6 Juni 1973 itu setelah tamat di SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, diterima masuk perguruan tinggi S-1 Universitas Nusa Cendana Kupang tanpa test karena gemilang nilai akademiknya.

Sebelum meninggalkan halaman rumah, ayah Gustaf berpesan agar ia aktif dalam kegiatan organisasi, banyak membangun jejaring sehingga dapat belajar dari berbagai latar belakang setiap pribadi.

Tahun 1992 Gustaf resmi menyandang status mahasiswa. Lalu tahun 1993 bersama sahabatnya, Gustaf membentuk organisasi KODI di tingkat kecamatan. Tujuan KODI dibentuk sebagai forum komunikasi generasi muda Wonokaka. Soal penamaan organisasi terinspirasi dari nama pahlawan dari Kupang. Dalam proses pembentukkannya, ada 7 orang sebagai inisiator dan Gustaf dipercaya sebagai Ketua. Pada saat itu usia Gustaf termuda.

Baca Juga: PMKRI Cabang B.Lampung Peduli Bencana Sulwesi Barat Hingga Kalimantan Selatan

Kegemarannya aktif berorganisasi membuat Gustaf tergabung di PMKRI. Saat forum pemilihan Ketua, Gustaf memperoleh suara 347, dari total peserta forum rapat anggota cabang (RUAC) ada 450 orang.

Mengilhami semangat Magis Semper, menghantarkan Gustaf mendapat beasiswa Fordfundation S2 di Universitas Indonesia, Jakarta (Fakultas Ilmu Politik, Jurusan Politik Keparlemenan).

Tak hanya itu, tahun 1999 Gustaf didelegasikan ke Bangladesh mewakili PMKRI (Cabang Kupang) berbarengan dengan Pengurus Pusat (PP) PMKRI kala itu Sebastian Salang dalam forum International Movement of Catholic Student (IMCS).

IMCS menjadi forum mahasiswa katolik regional Asia Pasifik. Berbagai macam isu dari soal HAM, korupsi, pluralisme, kemiskinan tak lupa dibahas. Kemudian tahun 2002, Gustaf mendapat amanat untuk menjadi PP PMKRI sebagai Presidium Gerakan Kemasyarakatan.

Setelah menyelesaikan tanggungjawab di PMKRI, bersama para senior CSIS antaranya Bapak Harry Tjan Silalahi dan Dr.J.Kristiadi mendirikan Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (FORMAPI). Sehingga terpilih pengurus Formappi yang pertama adalah Alm.Tommy Legowo, Sebastian Salang, Gustaf Tamo Mbapa, Yurist Oloan, Bernardus Barat Daya, Edi Widiantoro, Robert Endi Jaweng, Joe dan lainnya.

Tahun 2005 Gustaf memutuskan untuk masuk partai. Sejak aktif dalam Partai Demokrat (PD), Gustaf memahami bahwa PD adalah partai nasionalis religious milik rakyat. Artinya, PD bukan partai agama, bukan partai golongan/suku tertentu.

Karenanya, Gustaf mendapat kesempatan yang sama menjadi Pengurus Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat sebagai Sekretaris Divisi Pendidikan dan Pelatihan. Gustaf juga memahami dan berusaha mengaplikasikan etika politik Partai Demokrat sebagai partai cerdas, bersih dan santun.

Sejumlah posisi strategis pernah ia tempati, antara lain sebagai Seksi Persidangan Kongres V Partai Demokrat 2020, Ketua Panitia Natal Nasional Partai Demokrat di Kupang 2012, Sekretaris Divisi Pendidikan dan Pelatihan DPP Partai Demokrat 2010- 2020.

Baca Juga: Profil Rafael Situmorang: Spirit Politik, Double Minoritas Dan Cinta Kasih

Gustaf juga dipercaya menjadi peserta delegasi DPP Partai Demokrat untuk pemantau pemilu di Thailand tahun 2008, fasilitator Pendidikan Kader Kepemimpinan Partai Demokrat (PKKPD) di Cipanas tahun 2008, Penugasan memimpin Musyawarah Cabang dan Musyawarah Daerah Partai Demokrat di Seluruh Indonesia (2006-2018) dan masih banyak lagi tugas yang diemban dalam partai.

Menurutnya dalam berpolitik, yang bertahan itulah disebut kader. Dalam politik kita tidak banyak diberi tugas secara langsung namun bagaimana kita dapat aktif berkreasi. Tentu juga bagaimana mampu bertahan dari setiap godaan (apapun).

Prinsip Gustaf berpolitik itu tak hanya tentang merebut kekuasaan. Tapi dapat melahirkan kebijakan yang pro-rakyat. Dengan otoritas yang ada, mampu mewujudkan keadilan yang sebenarnya.

“Mulai dari lahir hingga meninggal sudah sepatutnya mendapat perhatian dari pemerintah, contohnya bagi ibu hamil ya harus mendapat gizi yang cukup, bagi lansia, para korban bencana alam kita beri bantuan dan tentu masih banyak lagi program yang bisa diaplikasikan”, ujar Ketua Yayasan Indonesia Nusantara Nasionalis itu.

Mantan Ketua Umum Pemuda Katolik itu juga menambahkan, “Sudah sepatutnya yang dipercaya sebagai eksekutif harus menjadi pelayan masyarakat secara total. Kalau jadi wakil rakyat ya menjalankan tugas legislator sebagaimana mestinya. Aspirasi rakyat kunci utama pekerjaan rumah kita”. (PC/KT)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *